Mengenal Arsitektur Papua Melalui 3 “Wajah”-nya

Berbagai koleksi asli Papua yang berada di museum.

Berada di ujung timur Indonesia, Papua menyimpan banyak pesona keindahan tiada duanya. Salah satu pusaka kekayaan yang dimiliki adalah rumah adat.

Jika ingin mengenal Indonesia, berkunjunglah ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Karena, di tempat inilah Anda akan melihat Indonesia dalam skala yang kecil. Ya, di TMMI ini gambaran Indonesia memang tertuang jelas. Baik dari adat Istiadatnya maupun rumah adatnya. Nah, untuk kesempatan pertama ini, saya ingin menuliskan tentang rumah Adat Papua. Kenapa? Karena, dari semua rumah adat, saya paling buta dengan yang namanya rumah adat Papua. Jadi, saya tertarik untuk mengangkat tema ini untuk yang pertama. Sekaligus, bahan saya belajar.

Marcel, penanggung jawab Anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah

Marcel, penanggung jawab Anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah

Rumah Adat Papua adalah salah satu pusaka budaya yang dimiliki Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. “Meski material bangunan yang digunakan tidak sama seperti aslinya, namun tata bangun secara keseluruhan merefleksikan rumah adat di Papua dengan kondisi aslinya, baik bentuk rumah maupun lingkungan alamnya,” ucap Marcel, penanggung jawab Anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah.

Ada 3 buah rumah adat yang ditampilkan di Anjungan Papua. “Aslinya, masih ada ratusan rumah adat di Papua. Ini tak terlepas dari jumlah suku di Papua yang mencapai 252 suku dan 300 bahasa,” jelas Marcel. Walau demikian, ketiganya tetap merepresentasikan budaya Papua secara umum, karena latar belakang lingkungan dari 3 budaya tersebut, cukup berbeda. Inilah ketiga rumah adat Papua.

Rumah Kariwari

Rumah Kariwari adalah rumah adat suku Tobati-Enggros yang menghuni tepian Danau Sentani di Kabupaten Jayapura. Rumah ini aslinya ditujukan khusus untuk laki-laki, sampai-sampai disebut dengan rumah laki-laki. “Perempuan tidak diperkenankan masuk,” kata Marcel.

Di TMII, Rumah Kariwari ini hanya memiliki 2 lantai dan difungsikan sebagai ruang pamer benda-benda yang berhubungan dengan suku Asmat.

Di TMII, Rumah Kariwari ini hanya memiliki 2 lantai dan difungsikan sebagai ruang pamer benda-benda yang berhubungan dengan suku Asmat.

Anak laki-laki yang dimaksud adalah yang usianya kira-kira 12 tahun. Mereka dikumpulkan dan dididik mengenai mencari pengalaman hidup. Dari mulai belajar memahat, membuat perisai, membuat perahu, hingga teknik perang. Intinya, mereka diajarkan agar lebih kuat, terampil, dan pintar.

Bangunan ini berbentuk limas segi delapan dengan atap kerucut. “Bentuk ini dipercaya kuat menahan angin kencang dari 8 penjuru arah yang berhembus ke bangunan,” jelas Marcel. “Sedangkan bentuk atapnya yang kerucut ke atas lebih mengarah kepada kepercayaan masyarakat dalam mendekatkan diri dengan roh para leluhur,” lanjutnya.

Rumah Kariwari memiliki tinggi bervariasi 20—30 m, diameter bangunan mencapai 8—12 m, dan dibagi menjadi 3 zona yang dibedakan dengan tingkatan lantainya. Lantai 1 digunakan sebagai tempat belajar para lelaki. Lantai 2 dipergunakan sebagai kamar tidur dan pertemuan para pemimpin serta ketua suku. Sedangkan lantai 3 adalah ruang meditasi yang fungsinya mengembalikan semangat, daya tahan, menstabilkan emosi, dan berdoa.

Material yang digunakan adalah kulit kayu untuk lantai, bambu air yang dibelah dan dicacah-cacah untuk dinding, dan daun sagu untuk atap. Yang unik, struktur bangunan di dalam rumah menggunakan 8 buah kayu utuh di mana kedelapannya dihubungkan sebuah tali ke pusat bangunan dan diikatkan ke sebuah batang kayu utuh pula. Kayu yang digunakan adalah kayu besi.

“Batang kayu ini difungsikan sebagai keseimbangan bangunan dan menahan atap agar tidak lepas dan terbang,” ucap Marcel. Area di antara 8 struktur bangunan dan posisinya di bawah batang kayu gantung difungsikan sebagai tempat menyimpan hasil kerajinan, tempat menaruh alat perang, hingga menggantung kepala musuh yang tertangkap.

Pemukiman Suku Dani

Suku Dani adalah suku yang terletak di Lembah Baliem, pedalaman Papua. Satu perkampungan terdiri dari unit-unit pemukiman yang disebut dengan sili. Dalam satu sili terdapat beberapa bangunan, yang disebut dengan honay. Ada 3 jenis rumah honay yaitu honay (rumah laki-laki), ebei honay (rumah perempuan), dan wanay honay (kandang ternak babi).

Bentuk rumah honay.

Bentuk rumah honay.

Rumah honay terbuat dari kayu dengan atap berbentuk seperti jamur yang terbuat dari jerami atau ilalang. Pintu masuk ke dalam rumah berukuran kecil dan tidak memiliki jendela. Ini bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua dan membuat kehangatan di bagian dalam rumah. Posisinya sejajar dengan pintu masuk utama ke dalam sili, yang fungsinya juga sebagai penjagaan.

Rumah honay terdiri dari 2 lantai dengan tinggi bangunan kurang lebih 2,5 m dan lebar 2—2,5 m. Lantai pertama difungsikan sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri.

Rumah ebei honay mirip dengan rumah honay, hanya saja berukuran lebih kecil. Posisi dalam sili ditempatkan di bagian samping kanan atau kiri honay dan posisi pintu rumah tidak sejajar dengan pintu utama. Sedangkan wanay honay bentuknya persegi dengan material bangunan sesuai dengan honay dan ebei honay.

Rumsram

Rumsram adalah salah satu rumah tradisional suku Biak Numfor di Pantai Utara Papua. Rumah ini aslinya ditujukan untuk kaum laki-laki. Sama halnya dengan Kariwari, perempuan dilarang masuk atau mendekati rumah ini. Fungsinya pun mirip, sebagai kegiatan dalam mengajar dan mendidik para lelaki yang mulai beranjak remaja, dalam mencari pengalaman hidup.

Arsitektur C1

Lokasinya yang berada di sebuah pulau, memengaruhi bentuk rumsram. Bangunannya berbentuk persegi dengan atap berbentuk perahu terbalik. “Bentuk ini tak terlepas dari mata pencaharian mereka, pelaut,” kata Marcel.

Rumsram memiliki tinggi kurang lebih 6—8 m dan dibagi menjadi 2 zona yang dibedakan dengan tingkatan lantainya. Lantai 1 sifatnya terbuka dan tanpa dinding. Hanya kolom-kolom bangunan yang terlihat. Di tempat inilah, para lelaki dididik belajar memahat, membuat perisai, membuat perahu, hingga teknik perang.

“Bedanya, pahatan patung Biak Numfor adalah tunggal, sedangkan Kariwari tidak,” jelas Marcel. Material yang digunakan adalah kulit kayu untuk lantai, bambu air yang dibelah dan dicacah-cacah untuk dinding, dan daun sagu untuk atap. Khusus untuk dinding, aslinya hanya ada sedikit jendela dan posisinya di depan dan belakang.

Foto Jou Endhy Pesuarissa, Irfan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s