Vihara Buddhagaya Watugong, Wisata Religi Sekaligus Arsitektur

 

Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong yang asri dan sejuk.

Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong yang asri dan sejuk.

Kecantikan arsitektur bangunan vihara ini tak hanya menarik umat Buddha untuk datang beribadah, namun juga menarik wisatawan untuk menikmatinya. Termasuk, saya.

Oke, kali ini saya akan mengangkat Vihara Buddhagaya Watugong, Semarang. Saya tertarik mengangkat tempat ini, karena ketika saya kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang, Vihara ini salah satu tempat pelarian saya, selain pergi ke mall dan ke kolam renang. Biasanya saya ke sini sendiri, enggak bilang temen-temen. Saya senang saja duduk di bangku taman, bahkan pernah mengerjakan tugas kuliah di sini karena suntuk di kosan. Hahaha… *Ini sebenarnya rahasia, bahkan temen-temen enggak akan tau saya pernah ke sini.

Rimbunnya pepohonan membuat area di sekitar Vihara adem.

Rimbunnya pepohonan membuat area di sekitar Vihara adem.

Perjalanan ke tempat ini di tengah aktivitas saya yang sedang dikontrak PT Semen Gresik Tbk. di tahun 2011. Saat itu saya didapuk jadi pembicara sekaligus konsultan di acara PRPP (pekan rayanya kota Semarang) selama 1,5 bulan #Mengiklankan diri. Entah kenapa di tengah-tengah aktivitas, saya teringat dengan tempat ini. Dan akhirnya memutuskan untuk jalan ke sini sekaligus mengambil foto, karena dulu saya belum sempat mengabadikannya.

Berasa di Cina ya, padahal ini di Semarang lho.

Berasa di Cina ya, padahal ini di Semarang lho.

Beruntung, saat berkunjung, saya bertemu Pak Oey Poen Kiat atau nama Indonesia-nya Eddy Purwanto dan Pak Halim Wijaya, pengurus Vihara. Saya juga senang, Vihara yang sempat terlantar selama 8 tahun ini masih terawat dengan baik di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia. Bahkan, vihara ini tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi  objek wisata arsitektur menarik.

Vihara Pertama di Indonesia

Kompleks vihara ini berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare. Lokasinya terletak di bagian selatan Kota Semarang yang terkenal dengan batunya yang berbentuk seperti gong, atau dalam bahasa Jawa disebut Watugong. Lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Ungaran. Dari Bandara Ahmad Yani Semarang, waktu tempuh menuju tempat ini sekitar 30 menit berkendara (jika melalui jalan tol), atau sekitar 45 menit jika masuk ke dalam kota. Jika ditempuh dari Simpang Lima atau Tugu Muda, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 30 menit.

Bangunan Wihara Dhammasala ini lebih banyak digunakan saat ada aktivitas ibadah yang  melibatkan banyak orang.

Bangunan Vihara Dhammasala ini lebih banyak digunakan saat ada aktivitas ibadah yang melibatkan banyak orang.

Ada 2 bangunan yang sangat mencolok di kawasan Vihara ini, yaitu Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Dhammasala. Vihara ini diklaim sebagai vihara pertama yang menyebarkan agama Buddha di Pulau Jawa, setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit. Ketua Vihara, Halim Wijaya, mengatakan bahwa ajaran Buddha di Watugong dibawa biksu asal Sri Lanka yang bernama Narada.

Tampak depan dan pintu masuk Wihara Dhammasala.

Tampak depan dan pintu masuk Vihara Dhammasala.

“Pada tahun 1934, Narada datang ke Indonesia membawa dua pohon bodhi. Dalam agama Buddha, pohon ini dipercaya sebagai tempat Sang Buddha Gautama bersemedi dan memperoleh pencerahan. Keduanya ditanam di kawasan Borobudur, Magelang. Namun pada 1955, salah satu pohon dibawa dan ditanam di halaman Vihara Buddhagaya,” ucap Halim. Cerita inilah yang membuat mereka percaya bahwa tempat ini merupakan vihara pertama yang menyebarkan agama Buddha di Pulau Jawa.

Pagoda Tertinggi di Indonesia

Tak hanya cantik secara fisik, vihara ini ternyata menyimpan pesona lain. Salah satu bangunan di kompleks vihara ini dinyatakan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Bangunan itu adalah Pagoda Avalokitesvara yang tingginya mencapai 45m. Pagoda ini disebut juga dengan nama Metta Karuna, yang memiliki arti kasih sayang. Dengan ketinggian seperti ini, kompleks bangunan Vihara Buddhagaya Watugong dapat terlihat dari kejauhan.

Pagoda Avalokitesvara yang sangat tinggi dan menjadi ikon dari kawasan Vihara ini.

Pagoda Avalokitesvara yang sangat tinggi dan menjadi ikon dari kawasan Vihara ini.

Pagoda Avalokitesvara ini bisa dikatakan sebagai ikon dari kawasan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Selain bangunannya paling tinggi, pagoda ini memiliki warna yang cerah, yang dapat mencuri perhatian orang. Yang menarik dari pagoda ini adalah ia dibuat menjadi tujuh tingkat, yang melambangkan makna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesuciannya pada tingkat ketujuh. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15m x 15m.

Tidak hanya pagoda yang mempunyai daya tarik tersendiri, tetapi keberadaan dua gazebo yang berada di kanan dan kiri digunakan untuk tambur dan lonceng.

Tidak hanya pagoda yang mempunyai daya tarik tersendiri, tetapi keberadaan dua gazebo yang berada di kanan dan kiri digunakan untuk tambur dan lonceng.

Tingkat satu berada di lantai bawah dan berfungsi sebagai tempat sembahyang. Yang mencolok di dalam tingkat 1 ini adalah terdapat patung Dewi Kwan Im, atau disebut dengan Dewi Welas Asih, yang tingginya mencapai 5,1m. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im yang menghadap empat penjuru mata angin. Hal ini bertujuan agar Sang Dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin. Sementara pada tingkat ketujuh terdapat patung Amitaba, yakni guru besar para dewa dan manusia.

Ada Ritual Sebelum Masuk

Selain bangungan Pagoda Avalokitesvara, bangunan lain yang mencolok di kawasan hijau dan asri ini adalah Vihara Dhammasala. Lokasinya persis berada di dekat pagoda. Bangunan ini dibangun sejak 1955 dan terdiri dari dua lantai. Jika pagoda berbentuk segi delapan, bangunan ini berbentuk segi empat. Sebelum memasuki Vihara Dhammasala, Anda harus mengikuti ritual khusus. Anda harus menginjak relief ayam, ular, dan babi, yang ada di lantai pintu masuk. Relief-relief ini memiliki arti khusus: ayam melambangkan keserakahan, ular melambangkan kebencian, dan babi melambangkan kemalasan.

Patung Dewi Kwan Im atau disebut dengan Dewi Welas Asih, yang berada di dalam pagoda. Patung ini adalah yang berukuran besar dan tingginya mencapai 5,1m.

Patung Dewi Kwan Im atau disebut dengan Dewi Welas Asih, yang berada di dalam pagoda. Patung ini adalah yang berukuran besar dan tingginya mencapai 5,1m.

“Melalui ritual ini, diharapkan umat beribadah dapat menghilangkan ketiga karakter yang ada di badan setiap manusia, hingga pada akhirnya bisa masuk surga,” ucap Eddy Purwanto. Semua unsur di bangunan ini memiliki makna, termasuk dinding sekeliling vihara. Dindingnya dihiasi relief Paticca Samuppada, yaitu relief yang menceritakan tentang proses hidup manusia dari mulai lahir hingga meninggal.

Fasilitas Pendukung Lainnya

Selain sebagai tempat ibadah, vihara juga merupakan tempat untuk melakukan kegiatan sosial. Di kompleks vihara, ada satu bangunan yang digunakan sebagai kegiatan belajar masyarakat setempat. Ada pula taman membaca yang dapat dipakai untuk semua agama, tanpa terkecuali.

Interior dalam Vihara  Dhammasala.

Interior dalam Vihara Dhammasala.

Yang menarik, di area ibadah ini juga terdapat tempat penginapan. Bentuknya seperti rumah panggung dan terbuat dari kayu. Tempat penginapan ini berfungsi tempat tinggal pengunjung vihara saat ada acara-acara keagamaan.

Inilah pohon buah Bodhi, yang dibawa dibawa Narada, biksu asal Srilangka.

Inilah pohon buah Bodhi, yang dibawa dibawa Narada, biksu asal Srilangka.

Satu hal lagi yang menyenangkan saat ke sini adalah semua bagian dalam komplek Vihara ini ditata dengan rapi. Tak heran jika banyak orang yang datang berkunjung ke tempat ini. Jadi, tunggu apalagi? Jika Anda datang ke Semarang, sempatkan untuk berwisata religi dan arsitektur di vihara ini.

Foto Irfan

Advertisements

One thought on “Vihara Buddhagaya Watugong, Wisata Religi Sekaligus Arsitektur

  1. Pingback: ARSITEKTUR INDONESIA | ajuswiranata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s